Maret kelabu


Hari ini hujan kembali mencumbui bumi. Tak henti-hentinya langit menangis, membuat suasana kota yang biasanya padat oleh aktifitas sehari-hari jadi terasa lengang. Hujan kali ini kembali membuatku terpesona. Menggodaku untuk kembali   mengenang kisah 7 tahun yang silam. Kisah yang selalu  membuatku harus menahan   rindu dan sukses mengeluarkan air mata. Seandainya waktu dapat diputar kembali, ku ingin mengulang kisah ini. Walau Cuma sebentar, yang penting aku bersamanya. Aku merindukan tawa, canda, suara, hangat tubuhnya saat memelukku, desah nafasnya saat bercerita, kebiaasaannya mengusap pipi dan puncak kepalaku hinngga membuat rambutku berantakan. Aaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrggggggggggghhhhhhhhhhhhh, Cuuukkkkuuuuuuupppppp!!!!!!!!!!!!!!!!
*****
To : Je sayang
Bunda, jenguk papa!! Habis makan, nyusul ke rumah sakit.
Jangan lupa kunci pintu.
                                    Cup sayang
                                        Bunda
Hhffftttthhh……Cuma helaan ini yang keluar dari mulutku, setelah membaca memo dari bunda. Aku hanya berharap semoga ayah baik-baik saja. Tak terasa 2 bulir air mata membasahi pipiku seperti mengisyratkan sesuatu yang tak seharusnya terjadi. 
Genap seminggu sudah ayah dirawat di rumah sakit. Semua keluarga, kerabat, kenalan, bergantian  menjenguk keadaan ayah. Dan otomatis hari-hari bunda hanya dihabiskan untuk menjaga dan merawat ayah yang sedang sakit. Aku cukup memaklumi, karena ayah lebih membutuhkan bunda dari pada aku. Tapi jujur, jauh di lubuk hatiku yang paling dalam aku merindukan perhatian ayah dan bunda. Seperti saat ini ketika langit kembali menitikan air matanya, aku hanya bisa menangis menahan ketakutan dan kesendirianku.
14 maret 2004, pukul 05.00 wib.
Aku terbangun dipagi hari yang begitu kelam. Suasana hujan semalam masih terasa dipagi ini. Dengan tenaga yang belum terkumpul sepenuhnya, aku beringsut membuka jendela. Wangi udara pagi menyambut dan membelaiku. Untuk sesaat pikiranku mengelana, sambil menikmati apa yang diberikan sang pencipta.
“Happy birthday to me..
happay birthday to me…
Happy birthday, happy birthday, happy birthday to me.”
  Sambil menyanyikan lagu ini, tangisku tak terbendung lagi. Benar-benar sakit rasa dada ini. Sejak tadi belum ku terima ucapan selamat ulang tahun dari ayah dan bunda. Kebiasaan yang selama ini terjadi, aku selalu dihujani kebahagiaan dan kecupan sayang dari orang-orang terdekatku. Namun saat ini, hanya diriku sendiri yang mengucapkannya.
 ” Cukup meyrita, sekarang bukan waktu yang tepat untuk menangis” kataku bergumam sendiri. Segera ku seka sisa-sisa air mata di pipi, aku tak ingin memulai hari ini dengan tangisan.
Pukul 13.00 wib, RS. Panti Rapih-Yogyakarta.
Wangi khas rumah sakit menyambut kedatanganku. Segera aku menuju kamar tempat ayah dirawat. Ayah sedang disuapi oleh Bunda ketika aku tiba di kamar. “Je, ayo sini sayang. Kenapa diam saja? Mau jadi tukang satpam yeah?” suara ayah mengejutkan lamunanku.
“ahh, ayah. Masa Je disamain sama tukang satpam?”.
“habis bukannya masuk malah bengong. ayah salah ongomong to nduk?”
“Enggak yah.Ayaha ngak salah apa-apa”.
“Ya sudah, sini peluk ayah. Ayah merindukan pelukan Je”.
            Aku langsung menghambur ke pelukan ayah. Tangisku pecah dalam dekapan hangatnya. Aku menghirup aroma tubuhnya, yang selalu ku rindukan. Tiba-tiba ayah dan bunda mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Tangisku semakin tak terbendung lagi. Ternyata mereka masih mengingat hari kelahiranku. “Je, maafkan ayah dan bunda. Ulang tahunmu kali ini tidak bisa dirayakan seperti  ulang tahunmu yang terdahulu. Ayahmu masih harus membayar biaya berobat. Kamu bisa mengertikan sayang,” kata bunda sambil membelai rambutku. Aku cuma mengangguk dan terus memeluk ayah. Aku tak ingin apa-apa diulang tahun kali ini. Cukup ayah sembuh, sudah merupakan kado terindah untukku.
            Menjelang sore ketika hendak kembali ke rumah, ayah memintaku untuk jangan pulang dulu. Sepertinya ayah ingin mengatakan sesuatu. Hatiku jadi tak karuan. “Tuhan, tolong semoga semunya baik-baik saja,” doaku dalam hati. Meskipun sudah berusaha menenangkan diri, namun hati kecilku tetap gelisah. Aku seolah tahu apa yang akan dibicarakan. Ayah menatap tepat di kedua bola mataku, membuatku tak mampu membalas tatapannya.
Je, bisakah engkau berjanji satu hal kepada ayah?”.
“Bisa ayah, katakan apa itu?”,
“Berjanjilah pada ayah bahwa suatu hari nanti, walaupun ayah telah tiada engkau tetap menjadi anak yang selalu membanggakan. Maukah Je menjadi malaikat kecil ayah?
Je mau ayah,” kataku dengan tegas.
“Terimakasih sayang, ayah bangga kepadamu. Pulanglah, hati-hati di jalan”.
“Ia, pa. Je akan doakan papa biar cepat sembuh”.
********
            Aku tak pernah menyangka bahwa percakapan  kemarin, merupakan hari terakhirku bersama ayah. 15 maret 2004, tepat pukul 17.40 wib ayah pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Aku hanya mematung menatap tubuh ayah yang tak bernyawa lagi. Entah mengapa, tiba-tiba aku merasa sepi, takut, dan sendirian. Aku berlutut di sisi pembaringan ayah. Ku tatap wajah itu. Wajah yang selalu membuatku tenang, nyaman dan  merasa sangat dicintai. Seperti mimpi yang aneh rasanya. Aku berharap secepatnya dapat terbangun dari mimpi buruk panjang ini. Aku merasa seperti  baru kemarin tubuh ini ku dekap,  baru kemarin mata itu menatapku penuh cinta, baru kemarin juga mulut itu menasehatiku dan baru kemarin juga tangan ini mndekapku. Sekarang pun aku masih merasakan semua itu. Suara, tawa, senyuman dan cintanya. Namun kini yang terjadi tubuh ini tak mau bergerak. Sekuat apapun aku berusaha membangunkannya, tubuh ini tetap tak bergeming. Tetap lelap dalam tidur abadinya.
Je, relakan ayah pergi sayang. Biarkan arwahnya tenang di alam sana. Doakan ayah agar diberi kemudahan. Masih ada bunda di sampingmu. Bunda akan selalu menjaga dan menyayangimu”. Kata-kata bunda menyadarkanku. Bunda berusaha terlihat tegar dihadapanku. Namun bunda tak mampu membohongiku. Ku tatap matanya, di sana terdapat telaga duka yang dalam. Kalau begini caranya, terpaksa aku harus tegar dan kuat, supaya bunda jangan bersedih. Memang berat dan menyakitkan, namun tak ada pilihan lain lagi.
Hari ini ayah akan dimakamkan. Alam cukup bersahabat untuk melaksanakan prosesi pemakaman. Semakin mendekati tempat pemakaman hatiku kian gelisah. “ Ya Tuhan, ini terakhir kalinya aku melihat papa. Sanggupkah aku melewati hari-hari selanjutnya tanpa papa? Tolong kuatkan aku,” isakku tertahan. Banyak tangisan yang  terdengar. Aku tak tahu apa alasan mereka menangis. Mungkin saja mereka juga merasa kehilangan, seperti apa yang aku dan bunda rasakan saat ini. Hanya saja porsinya berbeda.
Acara pemakaman telah selesai. Aku berusaha menahan tangis yang sedari tadi tertahan. Namun kini, tangisku pecah tak terbendung lagi. Ku dekap nisan papa penuh cinta, tak ingin ku lepas lagi. Sementara hujan mulai berjatuhan seolah turut merasakan dukaku. Dan senja yang mulai menampakan kuasanya, terekam jelas dalam ingatan dan hatiku. Memberi rasa yang sama: KESEPIAN DAN KETAKUTAN!!!!
Hujan yang turun sejak pagi tadi telah lama berhenti. Ku benahi buku-buku yang berserakan di meja belajar. Ternyata sedari tadi aku telah memflashback ingatan tentang papa. Saat-saat seperti inilah yang selalu membuatku merindukannya. Takkan pernah letih aku mengingatmu, karena hanya inilah cara untuk terus merasakan kehadiranmu. Maafkan aku ayah yang masih belum bisa ikhlas melepasmu. Aku tak akan melupakan janji kita.  
Surat untuk papa tersayang
papa…………
Apakabar?? Je, sangat merindukan papa. Saat ini malaikat kecil  Papa sudah beranjak dewasa. Seminggu lagi Je akan mendapatkan gelar sarjana. Ya papa, aku akan menjadi seorang sarjana. Papa senangkan? Papa baggakan? Akhirnya aku lulus juga. Keberhasilan  Je ini berkat doa papa dan bunda . Dan sudah sewajarnya jika aku persembahkan sebagai kado khusus  untuk papa dan bunda. Walaupun  papa tak berada di sampingku, namun  aku tahu papa tak pernah lelah menjagaku. Aku menyayangimu, tak ada yang mampu menyamai kasih sayangku.
Terimakasih papa untuk lagu itu. Aku sangat bangga dan bahagia pernah memiliki seorang ayah sepertimu. Sampaikan salamku untuk Tuhan dan penghuni surga lainnya.^o^ hehehehe..
                                                                   Peluk  dan cium sayang
                                                                   Je Malaikat Kecilmu
          Kudekap surat itu penuh cinta. Meskipun surat itu tak pernah terkirim, tetapi aku cukup bahagia dapat melepaskan rasa rinduku untuk ayah. Aku tak tahu sampai kapan kebiasaan ini akan berlangsung. Yang terpenting bagiku ayah bahagia selalu dan terus menempati hatiku.
“Tenanglah tenang papa di sampingmu selalu, ada menjagamu
 tenanglah tenang papa di sisimu, selalu ada menuntunmu
 jangan pernah ragu untuk meraih angan dan mimpimu
teruslah melangkah inilah waktumu
papa akan selalu menjagamu”.
            Kata-kata inilah yang terus membuatku mampu bertahan dan kembali bersemangat menjalani hidup ini. Aku percaya suatu saat nanati akan tiba waktunya aku dapat bersua kembali bersama ayah.

                                                                                                Samirono, 8 November 2001
                                                                        (untuk ayah terhebat yang tak lekang oleh waktu)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sandelwoodpferd des Sudens

“Diary Pramugari : Seks, Cinta dan Kehidupan”

Dan Maret datang lagi ...