Langit kita
jangan salahkan cinta ketika hati tak bisa bersama. Mencintai bukan berarti memiliki.
"aku akan menghitung setiap menit kebersamaan kita , dan aku berharap saat waktu itu tiba kita akan bersua lagi ditempat ini. Tempat kita memiliki langit seutuhnya".
Aku menutup novel yang baru beberapa menit yang lalu kulahap tanpa ampun. bukan apa-apa, sebab sejak novel ini dengan sukses berhasil ku colong dari Diandra, aku tak sedetikpun beralih. Aku bukan seorang cowok maniak buku. Aku lebih memilih Game ataupun nongkrong bersama teman-temanku daripada harus menghabiskan waktu hanya untuk membaca karangan imajinasi berlebihan karya penulis-penulis yang terlalu sok tahu tentang cinta. Namu tidak untuk kali ini. Novel dalam genggaman diandra itu begitu menarik minatku. penyebabnya adalah Cover depannya. Sepertinya 2 pasang kekasih yang sedang berdiri diantara tebing-tebing sambil menatap lurus ketengah lautan. Tak tahu apa yang sedang dilihat. Dan juga nama penulisnya yang begitu singkat. "Gee" begitu saja namanya. Singkat, aneh dan membuat penasaran. Karena penasaran akut yang begitu hebat akhirnya novel itu berhasil kurebut secara paksa dan membawanya kerumah seperti membawa harta karun yang telah lama hilang. Dan akupun dibuat terlena hingga tanpa sadar terus membalik setiap halamannya hingga tuntas.
Ada perasaan hangat yang menyusup dalam hati, sejak membaca halaman setiap cerita ini. terlalu lama aku merenung, kisah dalam novel itu begitu menggelitik hatiku. Mungkin saja karena ada beberapa kemiripanku dengan kisah sang tokoh. Tapi dari semuanya yang berhasil menyihirku adalah kalimat terakhirnya. Persis seperti janji sepasang sahabat yang tak sempat menautkan hati mereka.
"aahhh, sudahlah. kenapa juga aku harus memikirkan ini. Hello, adakah orang aneh sepertiku?? sudah berapa tahun berlalu sejak janji itu diikrarkan?? sadar donk, hingga detik ini kabarnya pun tak terdengar. Fiuhhhh.. ku hela napas ini. seperti berusaha menyelamatkan sesak yang selalu menyerang setiap mengingat tentangnya.
Namanya velin. Kecil, cerewet dan rada kekanak-kanakan. kalau dalam bahasa gaul anak-anak jakarta sering bilang kayak gini "dia bukan tipe gw banget bro". Tapi aku tak tahu sejak kapan memikirkannya diluar kapasitas tiga kata yang baru kusebutkan diatas. Mungkin saja saat aku harus terjebak hujan bersamanya dilorong sekolah yang sepi. Aku begitu merutuk dan terus mengeluh mempersalahkan langit yang telah membocorkan kantung airnya. Tetapi lihat dia. Hei sejak kapan aku memperhatikannya? Dia begitu tekun menatap langit dan rinai-rinai hujannya yang membasahi bumi. Begitu tenang dan nyaman. Seolah-olah sedang bercerita bersama sahabat lamanya. Ada keasyikan tersendiri saat memandang wajah sendu itu. Dan sejak saat itu aku terus mencuri-curi pandang menatapnya. Aku tak menyukainya, aku hanya penasaran ingin mengetahui seperti apa dia.
***
Suatu saat nanti aku akan menjadi seperti dia atau mereka semua yang telah membuatku terus bermimpi. Aku cuma terbahak saat velin menguangkapkan mimpinya. Dia ingin menjadi seorang penulis, seperti
"aku akan menghitung setiap menit kebersamaan kita , dan aku berharap saat waktu itu tiba kita akan bersua lagi ditempat ini. Tempat kita memiliki langit seutuhnya".
Aku menutup novel yang baru beberapa menit yang lalu kulahap tanpa ampun. bukan apa-apa, sebab sejak novel ini dengan sukses berhasil ku colong dari Diandra, aku tak sedetikpun beralih. Aku bukan seorang cowok maniak buku. Aku lebih memilih Game ataupun nongkrong bersama teman-temanku daripada harus menghabiskan waktu hanya untuk membaca karangan imajinasi berlebihan karya penulis-penulis yang terlalu sok tahu tentang cinta. Namu tidak untuk kali ini. Novel dalam genggaman diandra itu begitu menarik minatku. penyebabnya adalah Cover depannya. Sepertinya 2 pasang kekasih yang sedang berdiri diantara tebing-tebing sambil menatap lurus ketengah lautan. Tak tahu apa yang sedang dilihat. Dan juga nama penulisnya yang begitu singkat. "Gee" begitu saja namanya. Singkat, aneh dan membuat penasaran. Karena penasaran akut yang begitu hebat akhirnya novel itu berhasil kurebut secara paksa dan membawanya kerumah seperti membawa harta karun yang telah lama hilang. Dan akupun dibuat terlena hingga tanpa sadar terus membalik setiap halamannya hingga tuntas.
Ada perasaan hangat yang menyusup dalam hati, sejak membaca halaman setiap cerita ini. terlalu lama aku merenung, kisah dalam novel itu begitu menggelitik hatiku. Mungkin saja karena ada beberapa kemiripanku dengan kisah sang tokoh. Tapi dari semuanya yang berhasil menyihirku adalah kalimat terakhirnya. Persis seperti janji sepasang sahabat yang tak sempat menautkan hati mereka.
"aahhh, sudahlah. kenapa juga aku harus memikirkan ini. Hello, adakah orang aneh sepertiku?? sudah berapa tahun berlalu sejak janji itu diikrarkan?? sadar donk, hingga detik ini kabarnya pun tak terdengar. Fiuhhhh.. ku hela napas ini. seperti berusaha menyelamatkan sesak yang selalu menyerang setiap mengingat tentangnya.
Namanya velin. Kecil, cerewet dan rada kekanak-kanakan. kalau dalam bahasa gaul anak-anak jakarta sering bilang kayak gini "dia bukan tipe gw banget bro". Tapi aku tak tahu sejak kapan memikirkannya diluar kapasitas tiga kata yang baru kusebutkan diatas. Mungkin saja saat aku harus terjebak hujan bersamanya dilorong sekolah yang sepi. Aku begitu merutuk dan terus mengeluh mempersalahkan langit yang telah membocorkan kantung airnya. Tetapi lihat dia. Hei sejak kapan aku memperhatikannya? Dia begitu tekun menatap langit dan rinai-rinai hujannya yang membasahi bumi. Begitu tenang dan nyaman. Seolah-olah sedang bercerita bersama sahabat lamanya. Ada keasyikan tersendiri saat memandang wajah sendu itu. Dan sejak saat itu aku terus mencuri-curi pandang menatapnya. Aku tak menyukainya, aku hanya penasaran ingin mengetahui seperti apa dia.
***
Suatu saat nanti aku akan menjadi seperti dia atau mereka semua yang telah membuatku terus bermimpi. Aku cuma terbahak saat velin menguangkapkan mimpinya. Dia ingin menjadi seorang penulis, seperti
Komentar
Posting Komentar