Ahhh, Aku mengenang lagi..

Dan aku mengembara lagi. Mencari tempat untuk berteduh sejenak. menghapus luka dan cerita yang begitu menyesakkan. Setiap cerita mempunyai kisah yang akhirnya memiliki kesan tersendiri untuk orang yang menjalani. Sedih ataupun bahagia semuanya telah digariskan oleh-Nya. Tinggal bagaimana menata hati, pikiran dan logika agar sejalan dengan kenyataan yang ada.
Ahhh, betapa rumit ini. Betapa rumit mempersoalkan perasaan yang sedang menyesaki  dada. aku tak mau terus bersemayam dalam lembah perasaan ini. aiiihhh, mama betapa susah dan rumit mengajak hati berkompromi dengan logika. sepertinya aku tak sanggup lagi, menahan semua ini. Mungkin aku menunggu sang Bom waktu menghancurkan semuanya. Dan apa yang tertulis menjadi bukti nyata tentang hati dan pikiranku.
Lagi, aku hanya bisa menulis dalam diam. menyimpan semua perasaanku dalam buku bersampul hitam. sehitam hatiku yang sedang bergejolak. Masih 2 jam lagi pertunjukkan itu akan dimulai. pertunjukan musik terakbar yang mungkin pernah kudatangi. kalau saja hatiku bisa berkompromi, mungkin aku tak akan berada ditempat ini dan menjadi seperti orang asing. kalau saja bukan dia, kalau saja bukan untuk mencari kebenaran. hahahaaa, aku menertawakan diriku yang masih sama bodoh dan polosnya seperti 2 tahun lalu.
Sudah berapa lama aku tidak melihatnya? sudah berapa lama aku tidak menatap mata itu. Dan kali ini berbekal perasaan yang bercampur aduk antara rindu, dendam, sakit dan perasaan sayng itu, aku mencoba menghilangkan egoku. Mungkin terlambat, seharusnya ini kulakukan saat 2 tahun silam lalu. Tapi apa mau dikata, keberanian itu baru beberapa jam yang lalu menghampiriku. Saat tanpa sengaja aku membaca poster concertmu di Timeline twitter.
@Gor UNY, 19.00 wib
Akhirnya waktu untuk kembali melihatmu datang juga. segera kutelusuri bangku no 19. Lumayan, cukup dekat dengan panggung, tetapi cukup tersembunyi dari penglihatanmu.
Suara mc berpadu musik yang ceria mengalun.
Dan aku tak bisa berkata-kata lagi. mulut ini kelu, hati ini terbakar, dan tetesan air mata membasahi pipiku. aku menangis, sekaligus bahagia. Setelah 2 tahun berlalu, kamu masih saja semenawan ini. Masih saja matamu mengikatku.
jika saja aku tidak mempunyai malu, mungkin sudah kunaiki panggung itu, berlari dan mendekapmu. menangis dalam pelukanmu dan mengatakan betapa aku sangat merindukanmu. Betapa aku masih menyimpan setiap detik kenangan kita yang tak singkat itu. 4 tahun yang penuh warna. Tangisan dan kebahagiaan.
Biar saja concert ini batal, biar saja seluruh penggagummu membenciku. Tapi sayng, itu semua hanya sebatas khayalanku. Yach hanya hayalanku.
Padahal sudah jelas-jelas perkataanmu saat kita berpisah dulu. Matamu begitu menusuk memintaku untuk pergi hanya untuk sebuah keegoisan yang bisa dimaafkan. Kamu tak pernah mengerti hatiku, tak akan pernah sampai kapanpun. sudah berapa kali aku menangisimu? berapa kali aku seperti pengemis dihadapanmu? berjuang untuk memperthankan semuanya. Namun kami masih saja terus mengatakan bahwa aku yang salah. Sifatku yang menghancurkan hubungan ini. Egoku yang membuatmu membenciku. Itu katamu saat gerimis diawal september.
Tapi apa kamu tahu betapa tersiksa dan sakitnya hatiku? Kamu pikir semudah itu melepas semuanya? kamu itu gila dan egois, hanya memikirkan perasaanmu saja. Gengsimu saja. Kamu yang bilang ingin merajut kisah ini selamanya bersamaku. Kamu yang bilang ingin memegang tanganku selamanya. ahh tapi apa? bagimu 4 tahun itu cuma main-main. kata-kata manismu cuma gombalan. Hanya agar aku Bahagia. Begitu katamu. Hebat sekali kamu membuatku Bahagia dengan kebohongan yang sempurna. Mana kamu tahu bahwa perkataanmu menghancurkan semua kekuatanku. Mana kamu peduli bagaimana caraku untuk bangkit dan tegar lagi. Bagaimana caraku berdamai dengan semua kenagan dan perkataanmu.
Ahh, betapa bodoh menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk orang yang salah.
Aku menyesal pernah menyimpanmu terlalu dalam dihati ini, sehingga sulit untuk menarikmu kembali keluar.
Tetapi dari semuanya itu tetap rasa sayangku melebihi segalanya. Dan kami tahu itu? itu lebih menghancurkan hatiku daripada semua perkataanmu.
Aku tersadar dari hayalanku. Semua orang disekitarku sedang larut dalam kebahagiaan. histeria dan euforia bahagia memekakkan telinga. Namamu memenuhi seluruh Gor. Mungkin diluarpun tak kalah heboh. Tiba-tiba aku pusing, tiba-tiba semuanya menyesaki dadaku, aku tak dapat melihat apa-apa lagi. semuanya gelap dan semua suara itupun menghilang.
 
                                                                                           Yogyakarta, The Last November 2013

                                                                                              



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sandelwoodpferd des Sudens

“Diary Pramugari : Seks, Cinta dan Kehidupan”

Dan Maret datang lagi ...